Manajemen Konflik: Pengertian, Teori, Strategi, dan Contohnya dalam Organisasi
Konflik sering dianggap sebagai “polusi” dalam dunia kerja dan menjadi sesuatu yang harus dihindari agar relasi tetap terlihat aman. Banyak dari kita yang memilih diam demi stabilitas jangka pendek. Kita takut salah bicara, khawatir suasana menjadi canggung, atau tidak ingin dicap sebagai pemicu masalah.
Padahal, menurut studi dari Workplace Peace Institute (2024), konflik adalah hal yang lumrah dan terjadi di berbagai level organisasi:
- 32% terjadi antar tingkatan manajemen.
- 20% antara pimpinan senior dan eksekutif.
- 22% antara manajer dan bawahan langsung.
Artinya, manajemen konflik dalam organisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Mengabaikan konflik hanya akan membuatnya "membusuk" di belakang layar dalam bentuk gosip, asumsi, dan chat pribadi yang merusak produktivitas.
Manajemen Konflik Adalah Bagian dari Dinamika Manusia
Sebelum masuk ke teori dan strategi, penting untuk memahami mengapa konflik terasa begitu tidak nyaman. Secara biologis, otak manusia membaca konflik sebagai ancaman terhadap rasa aman. Respons alami yang muncul adalah fight, flight, atau freeze. Oleh karena itu, kecenderungan menghindari konflik sebenarnya sangat manusiawi.
Namun dalam konteks kerja, respons naluriah ini sering kali tidak membantu. Kita harus mampu melakukan manajemen konflik, yaitu kemampuan untuk mengelola perbedaan secara konstruktif, bukan menekannya atau membiarkannya meledak tanpa arah.
Hal yang harus dipahami, konflik bukanlah tanda kegagalan kerja sama. Konflik justru sering menjadi sinyal bahwa ada kebutuhan, ekspektasi, atau kepentingan yang belum bertemu.
Konflik sehat terjadi ketika perbedaan dibahas secara terbuka, emosi diakui tanpa mendominasi, dan relasi dijaga bersamaan dengan tujuan kerja. Sebaliknya, konflik destruktif muncul saat masalah dihindari, emosi dipendam, dan organisasi memilih diam demi kenyamanan semu. Dalam jangka panjang, konflik jenis ini menguras energi dan menurunkan kualitas keputusan.
Menghindari konflik sering terasa sebagai solusi cepat. Namun dalam jangka panjang, konflik yang tidak dibahas justru menciptakan risiko yang lebih besar seperti ketidakpercayaan, penurunan keterlibatan, hingga keputusan yang diambil tanpa kejelasan.
Jadi, apa Itu manajemen konflik? Secara praktis, manajemen konflik adalah proses mengubah energi negatif dari perselisihan menjadi solusi yang fungsional. Tujuan utamanya untuk memastikan perbedaan kita tidak menghentikan roda organisasi.
Pengertian dan Teori Manajemen Konflik Menurut Ahli

Memahami pengertian manajemen konflik tidak cukup hanya dengan definisi kamus. Kita perlu melihat bagaimana para praktisi dan pemikir kelas dunia mendefinisikannya sebagai sebuah disiplin ilmu strategis.
Howard Ross (Pakar Inklusi & Konflik)
Dalam bukunya Our Search for Belonging, Ross menekankan bahwa manajemen konflik adalah langkah sadar dan sistematis untuk mengarahkan perselisihan yang biasanya bersifat destruktif, menjadi hasil yang konstruktif dan positif. Baginya, konflik adalah konsekuensi alami dari keberagaman, dan mengelolanya berarti mengelola bias manusia itu sendiri.
Roger Fisher & William Ury (Tokoh Negosiasi Harvard)
Roger Fisher & William Ury mendefinisikan manajemen konflik melalui metode Principled Negotiation. Intinya adalah memisahkan antara "orang" dengan "masalah" (separate the people from the problem). Dengan manajemen yang tepat, kita bisa bersikap lunak pada orangnya, tetapi tetap tegas dan objektif pada penyelesaian masalahnya.
Morton Deutsch (Pakar Psikologi Sosial)
Morton Deutsch merupakan pionir dalam studi resolusi konflik yang membedakan antara proses "Kooperatif" dan "Kompetitif". Menurut Deutsch, manajemen konflik yang efektif adalah kemampuan mengarahkan partisipan untuk melihat konflik sebagai masalah bersama yang harus diselesaikan secara kooperatif, bukan kompetisi menang-kalah.
Alfie Kohn
Alfie Kohn memberikan perspektif unik bahwa manajemen konflik bukan sekadar mencari harmoni, melainkan menciptakan ruang untuk "ketidaksepakatan yang konstruktif." Tanpa manajemen yang baik, perbedaan pendapat akan mati, dan inovasi dalam organisasi akan ikut terhenti.
Dengan demikian, manajemen konflik adalah bentuk tertinggi dari empati profesional. Ini tentang keberanian untuk bicara jujur tanpa harus menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun.
Manajemen Konflik dalam Organisasi

Dalam konteks organisasi, konflik sering kali merupakan cerminan dari sistem kerja, struktur peran, dan cara organisasi mengelola perbedaan kepentingan. Oleh karena itu, manajemen konflik dalam organisasi sebetulnya adalah fungsi strategis untuk memastikan seluruh elemen tetap bergerak menuju tujuan bersama, meskipun setiap orang membawa perspektif, kepentingan, dan tekanan yang berbeda.
Ketika konflik hanya dipandang sebagai masalah personal, organisasi berisiko salah membaca sumber persoalannya. Padahal, banyak konflik yang muncul justru berakar pada desain kerja dan cara sistem berjalan sehari-hari.
6 Sumber Utama Konflik (Six Sources of Conflict)
Konflik di tempat kerja jarang terjadi secara acak; biasanya ia memiliki akar penyebab yang terstruktur:
- Ketidakjelasan Peran (Lack of role clarification): Konflik mudah muncul ketika batas tanggung jawab tidak jelas. Siapa yang mengambil keputusan, siapa yang mengeksekusi, dan siapa yang bertanggung jawab akhir. Ketidakjelasan ini sering memicu saling menyalahkan.
- Proses Kerja yang Tidak Mendukung (Poor processes): Prosedur yang berbelit, tumpang tindih, atau tidak relevan dengan kondisi lapangan sering menjadi sumber frustrasi. Ketika proses menghambat, individu cenderung menyalahkan orang lain, padahal masalahnya ada pada sistem.
- Masalah Komunikasi (Communication problems): Perbedaan interpretasi, asumsi yang tidak diuji, atau informasi yang tidak utuh dapat memicu konflik di semua level. Tanpa ruang dialog yang aman, miskomunikasi berkembang menjadi prasangka.
- Tidak Adanya Standar Kinerja yang Jelas (Lack of performance standards): Saat standar kualitas dan ekspektasi tidak disepakati bersama, setiap orang membawa definisi “cukup baik” versi masing-masing. Hal ini menciptakan gesekan, terutama saat evaluasi atau pembagian beban kerja.
- Keterbatasan Sumber Daya (Lack of resources): Keterbatasan anggaran, waktu, atau dukungan sering memicu kompetisi tersembunyi. Tanpa pengelolaan yang transparan, konflik berubah menjadi tarik-menarik kepentingan.
- Tekanan Waktu yang Tidak Realistis (Unreasonable time constraints): Konflik juga muncul ketika tenggat tidak mempertimbangkan kompleksitas kerja. Kurangnya pemahaman lintas peran membuat satu pihak merasa ditekan, sementara pihak lain merasa “itu kan seharusnya bisa lebih cepat”.
Dampak Konflik yang Tidak Dikelola
Konflik yang dibiarkan tanpa pengelolaan jarang benar-benar hilang. Konflik cenderung berubah bentuk dan meninggalkan dampak jangka panjang bagi organisasi, setidaknya pada tiga area berikut:
- Efek Psikologis (Stres & Ketidakpuasan): Konflik yang berlarut-larut memicu kecemasan, kelelahan emosional, hingga burnout. Dalam jangka panjang, tekanan ini bahkan dapat berdampak pada kesehatan fisik. Individu merasa tidak aman, tidak didengar, dan kehilangan makna dalam pekerjaannya.
- Respon Perilaku (Defensif & Disengagement): Ketika konflik tidak dibahas, muncul sikap saling menjaga jarak. Komunikasi menjadi kaku, kepercayaan menurun, dan orang mulai “menarik diri” secara emosional. Energi yang seharusnya digunakan untuk berkarya justru habis untuk menghindari gesekan.
- Penurunan Motivasi & Produktivitas: Akumulasi stres dan jarak emosional menciptakan siklus negatif. Fokus bergeser dari tujuan kerja ke keluhan personal. Produktivitas menurun, dan dampaknya bisa menular ke tim lain jika tidak segera ditangani.
Strategi Manajemen Konflik yang Efektif

Jika konflik muncul karena desain kerja, komunikasi, dan tekanan sistem maka penyelesaiannya pun tidak bisa diseragamkan. Tidak ada satu strategi manajemen konflik yang selalu benar untuk semua situasi. Cara kita merespons konflik perlu mempertimbangkan konteks, relasi, serta dampak jangka panjang terhadap kerja sama.
Secara umum, efektivitas strategi manajemen konflik ditentukan oleh dua pertimbangan utama, yaitu seberapa penting tujuan yang ingin dicapai (assertiveness) dan seberapa penting hubungan yang ingin dijaga (cooperativeness).
Kerangka yang paling banyak digunakan untuk membaca dinamika manajemen konflik adalah Thomas-Kilmann Conflict Model dari Dr. Kenneth W. Thomas dan Dr. Ralph H. Kilmann, yang mengelompokkan respons konflik ke dalam lima pendekatan berikut.
1. Menghindar (Avoiding)
Pada strategi ini, seseorang memilih menarik diri baik secara fisik maupun mental dari situasi konflik. Tidak ada posisi yang diambil, dan pembahasan masalah ditunda.
Pendekatan ini biasanya digunakan ketika isu yang dihadapi dianggap tidak terlalu penting atau ketika kondisi emosional belum memungkinkan percakapan yang produktif. Dalam kerangka Thomas–Kilmann, strategi ini muncul saat kepentingan terhadap tujuan maupun hubungan sama-sama rendah.
Kapan digunakan: Untuk situasi yang benar-benar sepele dan tidak berdampak pada kerja bersama.
Risiko dalam konteks kerja: Di lingkungan organisasi, konflik jarang bisa dihindari sepenuhnya. Menghindar justru sering membuat masalah mengendap, sementara relasi profesional tetap harus berjalan. Akibatnya, ketegangan muncul dalam bentuk pasif-agresif atau penurunan kepercayaan.
2. Berkompetisi (Competing)
Strategi ini ditandai dengan sikap tegas dan dominan. Seseorang menggunakan otoritas, jabatan, atau kekuatan argumen untuk memenangkan posisinya, meskipun harus mengorbankan kepentingan pihak lain.
Pendekatan ini tinggi pada ketegasan, tetapi rendah pada kerja sama. Fokus utamanya adalah hasil cepat dan kepastian keputusan.
Kapan digunakan: Dalam situasi darurat, krisis, atau ketika keputusan cepat dibutuhkan demi keselamatan, kepatuhan hukum, atau kelangsungan operasional.
Risiko dalam konteks kerja: Jika digunakan dalam situasi sehari-hari, strategi ini dapat merusak kepercayaan, mematikan partisipasi, dan membuat orang enggan menyampaikan pandangan berbeda di masa depan.
3. Mengakomodasi (Accommodating)
Dalam pendekatan ini, seseorang secara sadar mengalah dan mengutamakan kebutuhan pihak lain demi menjaga hubungan. Kepentingan pribadi ditempatkan di belakang, baik karena ingin meredakan emosi maupun menunjukkan itikad baik.
Strategi ini rendah pada ketegasan, tetapi tinggi pada kepedulian terhadap relasi.
Kapan digunakan: Saat isu yang diperdebatkan tidak terlalu krusial bagi kita atau ketika pihak lain sedang berada dalam kondisi emosional yang tinggi sehingga perlu ditenangkan terlebih dahulu.
Risiko dalam konteks kerja: Jika dilakukan terus-menerus, mengakomodasi dapat menumpuk frustrasi tersembunyi. Dalam jangka panjang, organisasi bisa kehilangan keberanian untuk berdebat sehat, dan inovasi pun terhambat karena orang memilih diam.
4. Berkompromi (Compromising)
Kompromi berangkat dari keinginan untuk mencapai kesepakatan secara cepat dengan membagi perbedaan. Masing-masing pihak melepaskan sebagian tuntutannya agar solusi “tengah” dapat dicapai.
Strategi ini sering dipilih ketika tujuan dan hubungan sama-sama penting, namun tidak sampai pada tingkat yang menuntut eksplorasi mendalam.
Kapan digunakan: Saat waktu terbatas dan keputusan harus segera diambil, atau ketika kedua pihak memiliki kekuatan dan kepentingan yang relatif seimbang.
Catatan penting: Kompromi kerap disebut sebagai strategi lose–lose, karena tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan siapa pun. Kompromi efektif untuk stabilitas jangka pendek, tetapi belum tentu menyelesaikan akar masalah.
5. Berkolaborasi (Collaborating)
Kolaborasi merupakan pendekatan paling mendalam. Alih-alih bernegosiasi di permukaan, pihak-pihak yang terlibat bersama-sama menggali kepentingan di balik posisi yang muncul, lalu mencari solusi kreatif yang memenuhi kebutuhan semua pihak.
Dalam strategi ini, baik tujuan maupun hubungan sama-sama dipandang penting.
Kapan digunakan: Untuk sebagian besar konflik dalam organisasi, terutama yang berdampak jangka panjang terhadap kinerja, kepercayaan, dan kualitas kerja sama.
Kelebihan utama: Kolaborasi membuka ruang belajar, memperkuat relasi, dan menghasilkan keputusan yang lebih berkelanjutan. Jika eksplorasi kolaboratif tidak menemukan jalan keluar, barulah kompromi menjadi alternatif realistis.
Contoh Manajemen Konflik di Dunia Kerja

Setelah memahami berbagai pendekatan dalam merespons konflik, pertanyaan berikutnya bukan lagi strategi mana yang paling benar, melainkan bagaimana strategi itu hidup dalam situasi nyata.
Di dunia kerja, konflik jarang hadir dalam bentuk teori yang rapi. Konflik muncul melalui interaksi sehari-hari, kebiasaan kecil, dan keputusan operasional yang terus berulang.
Berikut beberapa contoh konflik yang umum terjadi, beserta cara penyelesaiannya ketika organisasi memilih untuk benar-benar belajar dari konflik tersebut.
1. Konflik Perbedaan Komunikasi & Generasi
Skenario:
Seorang karyawan yang lebih muda terbiasa menggunakan bahasa kasual dan singkatan digital dalam email atau chat kerja. Rekan kerja yang lebih senior menafsirkan gaya ini sebagai kurang sopan dan tidak profesional. Awalnya hanya berupa rasa tidak nyaman, tetapi lama-kelamaan berubah menjadi ketegangan terbuka yang dipenuhi asumsi dan salah paham.
Resolusi:
Alih-alih menegur secara sepihak, leader bisa mengambil peran sebagai mediator. Fokusnya membantu kedua pihak memahami niat di balik perilaku. Percakapan dibuka dengan saling berbagi perspektif seperti satu pihak ingin efisiensi dan keakraban, sementara pihak lain menjunjung formalitas sebagai bentuk saling menghormati.
Hasilnya bisa menjadi langkah yang lebih sistemik yang menjadi kebijakan komunikasi untuk seluruh tim. Dari sana, standar komunikasi profesional disepakati bersama, dengan ruang fleksibilitas yang jelas. Konflik ini akhirnya menjadi pintu masuk untuk menyelaraskan ekspektasi lintas generasi.
2. Konflik Gaya Kerja (Work Style Conflicts)
Skenario:
Satu orang merasa tenang dengan perencanaan detail dan tenggat yang jelas sejak awal. Rekannya justru bekerja paling optimal mendekati deadline dan membutuhkan ruang eksplorasi spontan. Perbedaan ini menciptakan frustrasi, saling menyalahkan, dan tekanan emosional yang perlahan menggerogoti moral tim.
Resolusi:
Leader bisa memfasilitasi sesi percakapan terstruktur, memberi ruang bagi masing-masing pihak untuk menjelaskan bagaimana mereka bekerja untuk dipahami. Dari diskusi tersebut terlihat bahwa masalahnya bukan kompetensi, melainkan ketidaksinkronan cara kerja.
Solusi yang diambil bisa merancang ulang alur kerja. Fase perencanaan dan fase eksplorasi kreatif dipisahkan dengan jelas, disertai checkpoint berkala. Dengan desain kerja yang lebih sadar, dua gaya yang semula bertabrakan justru saling melengkapi.
3. Konflik Resistensi terhadap Perubahan
Skenario:
Perusahaan memutuskan pindah ke kantor baru dengan fasilitas yang lebih modern. Namun lokasinya lebih jauh. Bagi karyawan yang telah lama bekerja, keputusan ini terasa memberatkan karena waktu komuter bertambah, meskipun secara fasilitas terlihat “lebih baik”.
Resolusi:
Leader tidak menepis resistensi sebagai sikap negatif, melainkan memaknainya sebagai sinyal keterikatan. Rangkaian pertemuan diadakan untuk menjelaskan alasan strategis perpindahan kantor, termasuk implikasi jangka panjang bagi organisasi.
Lebih penting lagi, karyawan bisa diajak terlibat dalam proses transisi mulai dari pengaturan ruang kerja hingga pencarian solusi transportasi. Dengan dilibatkan, rasa kehilangan perlahan berubah menjadi rasa memiliki. Konflik yang semula berupa penolakan, bergeser menjadi proses adaptasi bersama.
Rekomendasi Buku Manajemen Konflik

Bagi siapa pun yang ingin memperdalam pemahaman tentang konflik, membaca menjadi salah satu cara paling jujur untuk belajar. Buku-buku berikut tidak hanya kaya riset, tetapi juga menawarkan perspektif praktis yang relevan dengan dinamika kerja dan relasi manusia sehari-hari.
1. The Anatomy of Peace: Resolving the Heart of Conflict
Arbinger Institute
Buku ini menjadi rujukan global karena mengajak pembaca melihat konflik dari sudut yang sering terlewat yakni kondisi batin kita sendiri. Disampaikan melalui narasi kuat tentang Yusuf al-Falah (seorang Arab) dan Avi Rozen (seorang Yahudi), The Anatomy of Peace menunjukkan bagaimana konflik sering kali bertahan bukan karena masalahnya rumit, tetapi karena cara kita memandang orang lain.
Alih-alih menawarkan teknik instan, buku ini menantang pembaca untuk mengenali “hati yang berperang”, pola pikir yang tanpa sadar membuat kita membenarkan diri sendiri dan menyalahkan pihak lain. Dari sanalah, jalan menuju resolusi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan mulai terbuka.
2. Difficult Conversations: How to Discuss What Matters Most
Douglas Stone, Bruce Patton, & Sheila Heen (Harvard Negotiation Project)
Hampir semua konflik besar berakar pada satu hal, yaitu percakapan yang tidak pernah benar-benar terjadi. Buku ini lahir dari lebih dari 15 tahun riset di Harvard Negotiation Project dan menjadi panduan klasik untuk menghadapi percakapan yang kita hindari entah karena takut melukai, disalahpahami, atau kehilangan kendali.
Pembaca diajak memahami bahwa setiap percakapan sulit selalu memiliki tiga lapisan seperti fakta, perasaan, dan identitas. Dengan kerangka ini, buku ini membantu kita memulai dialog tanpa memicu defensif, mendengarkan tanpa kehilangan pijakan diri, dan tetap hadir secara utuh meskipun berada dalam situasi emosional yang menekan.
3. Getting to Yes: Negotiating Agreement Without Giving In
Roger Fisher, William Ury, & Bruce Patton (Harvard Negotiation Project)
Jika konflik sering dipersepsikan sebagai tarik-menarik kepentingan, Getting to Yes menawarkan cara berpikir yang lebih jernih. Buku ini memperkenalkan pendekatan negosiasi berbasis kepentingan (interest-based negotiation), yang memisahkan manusia dari masalah dan fokus pada apa yang sebenarnya dibutuhkan, bukan sekadar apa yang dituntut.
Melalui prinsip-prinsip seperti menciptakan opsi bersama dan menggunakan kriteria objektif, buku ini membantu pembaca mencapai kesepakatan tanpa harus mengorbankan hubungan atau harga diri. Buku ini cocok bagi kita yang ingin menavigasi konflik secara rasional, adil, dan berjangka panjang.
Peran Leader & HR sebagai Arsitek Komunikasi dalam Manajemen Konflik

Konflik jarang selesai hanya dengan niat baik. Konflik membutuhkan ruang, struktur, dan keberanian kolektif untuk menghadirkan percakapan yang jujur tanpa rasa terancam dan tanpa kehilangan arah. Di titik inilah peran organisasi menjadi krusial.
Pemimpin sebagai Pengelola Dinamika Tim
Mengelola konflik adalah kompetensi inti dalam kepemimpinan. Pemimpin yang matang tidak memandang konflik sebagai gangguan, melainkan sebagai sinyal bahwa ada kebutuhan, ekspektasi, atau proses yang perlu ditata ulang.
Melalui kehadiran yang tenang dan kemampuan memfasilitasi percakapan sulit, pemimpin membantu tim belajar berhadapan dengan perbedaan tanpa saling merusak. Dari sanalah tim yang tangguh dan adaptif bertumbuh.
HR sebagai Penjaga Ruang Aman dan Penopang Sistem
HR berperan memastikan konflik tidak dibiarkan menjadi beban emosional atau risiko organisasi. Ketika konflik mulai menggerus produktivitas, melanggar nilai, atau berpotensi menimbulkan dampak hukum dan reputasi, HR menjadi titik eskalasi yang objektif dan terstruktur.
Dengan kerangka yang jelas, HR membantu menavigasi konflik secara adil dengan cara memperkuat sistem agar konflik serupa dapat dikelola lebih sehat di masa depan.
Konflik Tidak Harus Dihindari, Tapi Dikelola
Manajemen konflik adalah tentang membangun jembatan di atas perbedaan. Seperti yang kita pelajari dari berbagai perspektif ahli, konflik yang dikelola dengan baik bukan lagi menjadi penghambat, melainkan motor penggerak bagi inovasi, kedewasaan tim, dan keputusan yang lebih berkualitas.
Banyak konflik di tempat kerja lahir dari struktur yang kurang jelas, peran yang tumpang tindih, ekspektasi yang tidak pernah disepakati, atau komunikasi yang terputus. Di titik inilah manajemen konflik menjadi krusial.
Pemilihan strategi perlu disesuaikan dengan konteks dengan seberapa penting tujuan pekerjaan dan seberapa besar dampaknya terhadap keberlanjutan hubungan kerja. Alih-alih sibuk mencari “pemenang”, organisasi yang matang belajar menggali kepentingan (interests) di balik setiap posisi yang muncul.
Coba amati dinamika di tim kita saat ini. Apakah ada konflik yang selama ini sengaja "didinginkan" dengan harapan akan hilang sendiri? Ingatlah bahwa konflik yang didiamkan adalah investasi risiko bagi organisasi. Beranikan diri untuk memulai percakapan sulit hari ini dengan empati dan kejujuran.
Jika organisasi Anda sedang menghadapi tantangan dalam menyelaraskan perbedaan, atau ingin membangun kapasitas internal agar konflik dapat dikelola secara lebih sehat dan produktif, Gtrust Consultancy siap mendampingi.
Melalui program “Conflict Management for Better Workplace”, kami membantu organisasi menavigasi konflik secara lebih terstruktur mengubahnya dari sumber ketegangan menjadi sumber kejelasan dan kolaborasi.
Mari bersama-sama menciptakan lingkungan kerja yang lebih dewasa, sehat, dan produktif. Hubungi Gtrust Consultancy melalui consultancy@gtrust.id atau WhatsApp +62 811-1815-078, dan mari terus #TumbuhBersama.
Sumber
Alfie Kohn. (2017). Cooperative conflict: Neither concurrence nor debate. https://www.alfiekohn.org/article/conflict/
Arbinger Institute. (2015). The anatomy of peace: Resolving the heart of conflict. Berrett-Koehler Publishers. https://www.goodreads.com/book/show/25480369-the-anatomy-of-peace
Dansereau, V. (2025). 12 workplace conflict examples & their resolutions. Pollack Peacebuilding Systems. https://pollackpeacebuilding.com/blog/4-examples-of-conflict-situations-in-the-workplace/
Deutsch, M. (1973). The resolution of conflict. Yale University Press. https://yalebooks.co.uk/book/9780300021868/the-resolution-of-conflict/
Fisher, R., & Ury, W. (1981). Getting to yes: Negotiating agreement without giving in. Penguin Books. https://www.goodreads.com/book/show/313605.Getting_to_Yes
Harvard Business School Online. (2023). 5 strategies for conflict resolution in the workplace. https://online.hbs.edu/blog/post/strategies-for-conflict-resolution-in-the-workplace
Loewen, W. (n.d.). 6 sources of conflict at work. ACHIEVE Centre for Leadership. https://achievecentre.com/blog/six-sources-of-conflict-at-work-2/
Mochnacz, E. (2024). HR’s role in workplace conflict resolution. Red Clover HR. https://redcloverhr.com/hr-role-in-workplace-conflict-resolution/
Ross, H. J., Tartaglione, J., & Cole, J. B. (2018). Our search for belonging: How our need to connect is tearing us apart. https://www.goodreads.com/book/show/36860713-our-search-for-belonging
Short, R. (2025). State of workplace conflict in 2024: Insights and solutions. Workplace Peace Institute. https://www.workplacepeaceinstitute.com/post/state-of-workplace-conflict-in-2024-insights-and-solutions
SLM (Self Learning Material). (2024). The impact of conflict in organizations: Positive and negative effects. https://slm.mba/mmph-004/conflict-impact-organizations-positive-negative-effects/
Stone, D., Patton, B., Heen, S., & Fisher, R. (2000). Difficult conversations: How to discuss what matters most. Penguin Books. https://www.goodreads.com/book/show/774088.Difficult_Conversations
Talent Element. (2024). The role of a leader in conflict resolution. https://www.talentelement.com/the-role-of-a-leader-in-conflict-resolution/